Pojok Karya Siswa Pada Kegiatan Special Week

Meihat Sesuatu yang Tidak Terlihat
Karya Alzena Syadza Shaliha

Suatu hari aku dan Lavina hanya berdua di rumah dan tiba-tiba ada suara yang mengundang perhatian mereka berdua “Brukk!”ada suara barang yang jatuh.
“Suara apa itu Lavi?” tanya aku yang terkejut.
“Hmm sepertinya itu kucing?” jawab Lavina, dan pada akhirnya mereka mencari sumber suara itu.
“Hmm, mana ya barang yang tadi jatuh?” Setelah di cek ternyata itu memang kucing.
“Hmm, sepertinya itu memang kucing hehe, ternyata itu beneran kucing yang menyenggol nya.” Makanya kamu jangan berfirasat buruk,” Jawab Lavina.

Tamat.

I’m Sorry Allen
Karya Sabrina Alifya Faulin

Pada pagi hari di sekolah.
Keisha: “E-eh si culun udah dateng. Ambil kacamatanya El!”
Ella mengambil kacamatanya Allen dan merusaknya
Bel berbunyi.
Bu Lela: “Anak-anak hari ini kita akan belajar PAI ya..”
Waktu Istirahat.
Ella: “Oy minta uang dong.”
Allen memberikan uangnya.
Keisha: “Oh iya jangan lupa contekan IPS ya..”
Allen hanya terdiam.

Mereka terus menerus membully Allen sampai akhirnya.

Ella: “Kenapa sih si culun gak masuk seminggu ini?”
Keisha: “Iya kita jadi ga bisa nyontek lagi.”

Bu Lela: “Anak-anak , ibu punya kabar buruk teman kita, Allen telah meninggal pada minggu pukul 16.32.”

Keisha & Ella : “Hah?!”

1 minggu setelah Allen meninggal.

Ella: “Ibu aku pulang. Bu?”
Ella melihat bayangan hitam mondar mandir.
Ella: “Bu?”
Tiba tiba terdengar bisikkan “kalian pantas mati!”
Ella: “Hah?!”

*
Keisha sedang mencuci piring di rumahnya.
Keisha: “Kok perasaan aku gak enak ya?”
Keisha menghadap ke belakang dan melihat Allen tetapi dengan muka yang sangat hancur dan memegang pisau untuk membunuh keisha. Keisha pun berlari.

Keisha dan Ella menjadi sering mendapat gangguan.
Keisha: “El, kamu akhir akhir ini dapat gangguan gak?”
Ella: “Iya serem banget, gimana ya cara berhentiin nya?”
Aiden: “Caranya gampang kalian tinggal mengikuti keinginan Allen.”
Ella: “Kita gak tau keinginan Allen.”
Aiden: “Keinginan dia.. Pertama kalian harus meminta maaf kepada orang yang kalian bully, kedua kalian berhenti menjadi pembully, dan yang terakhir kalian harus mengunjungi makam Allen.”

Mereka pun mengikuti keinginan Allen.

Beberapa saat kemudian di makam Allen.

Keisha: “Allen kita minta maaf ya.”
Arwah Allen: “Iya, udah ya aku mau pergi dulu dah!”
Ella: “Dadah Allen.”

Pada akhirnya Allen sudah tenang.

Jangan biarkan perundungan menghancurkan semangatmu. Kamu lebih dari apa yang orang lain katakan.

Tamat.

Aku dan Sahabatku
Karya Elmyra Ishayu Querida Praja

Hari pertamaku pergi ke sekolah. Di hari itu aku merasa sangat tegang. Saat giliranku untuk memperkenalkan diri aku merasa malu dilihat banyak murid-murid yang lain, dan disitulah saat pertama kali aku melihat Vivy, yaitu sahabatku sekarang. Disaat itu hanya dialah yang menyemangatiku akupun menjadi percaya diri. Aku mulai berkenalan lebih dekat dengannya.
Setelah 6 tahun berlalu tanpa sadar kita berdua sudah remaja, walaupun kita sudah kelas 6 kita berdua masih sering bermain bersama-sama. Bahkan sampai kita sudah SMP, SMA kita selalu bersama, tetepi ketika kita sudah kuliah kita harus berpisah, karena Vivy dan keluarganya harus pindah rumah ke luar kota karena ayahnya pindah kantor yang berada di luar kota.
Pada akhirnya aku tidak bisa apa-apa lagi, jadi di waktu terakhir itu aku memberikan satu kalung persahabatan yang aku gunakan juga, jadi saat kita besar kita tak saling ingat lagi kita bisa saling mengingat dengan kalung tersebut. Sebelum Vivy pergi aku ingin mengajaknya ke suatu tempat yang selama ini dia ingin kunjungi, yaitu Akuarium besar. Sesudah kita bermain bersama, aku pun mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya kepada dia.

Tamat.

H-1

Karya Sitakara Mauza Thara

“Anak anak, besok adalah hari terakhir kita bertemu, Ibu harap kalian masuk semua, ya? Jangan bolos!” kata Bu Maya.
“Siap buuu!!” Seru teman kelasku dan aku.
‘Hm… kira-kira besok ada apa, ya? Gumamku.
Memang ya, sangat sedih rasanya ditinggal oleh teman-teman di bangku SD. Selama 6 tahun berjuang bersama.

*
Saat di rumah, aku langsung masuk kamar dan merebahkan tubuhku ke atas kasur. Aku berpikir mungkin sebentar lagi aku tidak akan melihat teman-teman SDku lagi. Tertawa dan menangis bersama dan melakukan hal lainnya.
“Apa itu?”
Terlihat samar samar foto di balik tirai.
Aku pun langsung menghampiri dan mengambil foto itu. Di sana ada 2 foto saat aku di bangku SD kelas 1 dan saat di kelas 6.
“Hahaha beda ya dulu sama sekarang aku. Teman teman juga!” Aku tertawa riang.

Besoknya.
“Anak-anak, 1,2,3,….. oke berarti semua masuk ya! Ibu mau kasih kalian sesuatu, kalian boleh berbaris di depan sini, yaa. Kalau sudah dapat kertas boleh dibuka dan dibaca ya, kertasnya” kata Bu Maya.
Aku pun membuka kertas itu, dan membacanya
“Surat untuk Mia. Mia kamu anak baik, salihah, pertahankan ya? Ibu sangat bangga kepadamu. Ingat ibu dam teman teman selalu yaa.”
Terdengar suara tangisan, dari setiap orang. Mia langsung memeluk Bu Maya, diikuti dengan teman-teman lainnya. Mereka menangis mambayangkan nanti di sekolah baru, mereka tidak akan bertemu lagi.
Tapi.. Perpisahan bukanlah akhir. Tapi awal cerita kita yang baru. Sampai bertemu lagi kawan!

Tamat.

Putri Bulan
Karya: Nayla Rahima Saabren

Hosiko adalah anak yang tidak memiliki kekuatan tetapi memiliki fisik yang kuat. Suatu hari dia pergi ke sekolah sihir diundang oleh kepala sekolah. Ia memasuki kelas dan semua orang menatap sinis kecuali 2 orang. Hosiko mulai memperkenalkan dirinya “Halo nama saya Hosiko salam kenal.”
Semua orang menjawab salam kenal, kecuali satu orang yaitu Rina, dia berkata “Kamu ga punya sihir tapi kok bisa ke sini? ” kata Rina.
Hosiko pun gugup dan tidak tahu mau bicara apa. Lalu, ada satu orang yang bernama Yui dia berkata, “Emang kenapa kalau tidak punya sihir? yang penting dia masih kuat.”
Rina pun terdiam. Hosiko duduk di sebelah Yui. Yui menyapa Hosiko dan Hosiko menyapa Balik.

Bel istirahat

“Eh mau kamu ke kantin sama aku dan Akane? ” kata Yui.
“Boleh kata Hosiko.”
Setelah itu mereka pun belajar.

Setelah beberapa bulan.

Hosiko bersekolah di sana, tetapi tidak ada tanda-tanda ia memiliki sihir, lalu tiba-tiba ada monster yang menyerang sekolah Hosiko. Semua orang mencoba menyerang monsternya tapi, tidak bisa. Semua orang, termasuk guru kewalahan.
Lalu tiba-tiba Hosiko dipancari sinar bulan lalu, tiba-tiba Hosiko memiliki kekuatan yang sangat kuat yaitu bulan.
“Ini kenapa?” kata Hosiko.
Lalu monster itu berlari entah kemana. Hosiko kebingungan, lalu kepala sekolah berkata,
“Hosiko… Kamu adalah reinkarnasi putri dewi bulan.”
Semua orang terkejut kecuali Yui ,Yui sudah tahu bahwa Hosiko adalah putri dewi bulan. Setelah kejadian itu Hosiko tidak dapat dibully lagi oleh teman sekelasnya.

Berkumpul Bersama Keluarga Pada Idul Adha
Karya: Kirana Talita

Pada pagi yang indah pada Idul Adha aku bersiap-siap untuk sholat Idul Adha bersama tante Andin dan tante Shopi. Sesudah sholat kita sarapan dengan ketupat.
Kegiatan selanjutnya adalah melihat sapi yang akan dikurbankan. Aku kasihan sekali saat melihat sapi yang akan dikurbankan, akhirnya aku bermain dengan anak kucing dan membantu abah memberi makan hewan peliharaannya.
Sorenya aku membantu nenek memasak. Bunda dan ayah pun tiba di rumah nenek.
Malamnya kami makan-makan bersama keluarga. Sudah jam sembilan malam aku , bunda ,dan ayah pamit kepada nenek , tante Shopi, tante Andin, dan Abah.
Itulah kegiatan yang kulakukan pada Idul Adha di tanggal 7 Juni 2025.

Ayo Membaca!
Karya: Daanish Muhammmad Al Fatih

Pada suatu hari, Kaidan dan Vano sedang bermain game bersama,
mereka sudah cukup lama bermain game .

“Kai, Vano, mau ke perpustakaan ga?”
Aku pun mengajak mereka untuk pergi ke perpustakaan.
“Ga ah kita lagi asik main nanti aja lah,” ucap Vano.
“Tapi kalian udah lama main game, mending baca buku,” jawabku.

“Eh katanya kalo kita sering membaca, kita bisa jadi Duta Literasi loh,” ucap Kaidan.
“Wah.. masa sih? ” tanya Vano.
“Nih, aku ada lagu rapnya, Vano kan suka rap, ayo kita membaca, agar kita bisa menjadi Duta Literasi Indonesia, seperti kak Dinda Angelica yang sudah membuat orang tua bangga, Absolute Cinema,” ucapku.
“Wah.. Kalau kaya gini aku jadi pengen coba ke perpustakaan,” ucap Vano.
“Ya sudah ayo kita pergi.”

(Saat di perpus).

“Aku ngambil buku yang mana ya? ” tanya vano.
“Kamu suka buku yang kayak gimana?” tanya Kaidan.
“Kayanya aku mau nyari komik,” ucap Vano.
“Nah, kebetulan di sini banyak komik. Kamu bisa pilih di bagian sini,” ucap Kaidan.
“Aku mau baca yang ini ah, keliatan nya seru,” ucap Vano.

(Setelah membaca).

“Wah, seru banget banyak plot twist di ceritanya!” ucap Vano.
“Iya kan, baca buku itu seru, kita juga bisa mendapatkan ilmu, informasi, dan masih banyak lagi,” ucapku.
“Kalau kaya gini aku sering-sering ke perpus deh,” ucap Vano.
“Aku pulang dulu ya,” ucap Kaidan.
“Sama,” ucap vano.

Tamat.

Ayah Mark Pembully Uvo Dark
Karya: Zahoor Ahmad

Ada seseorang yang bernama Mark, ayahnya adalah superhero. Saat Mark kecil, ia sudah mengetahui teknik dasar dari superhero. Saat dia remaja dia di bully, tapi dengan teknik Mark menonjok pembully dan pembully itu berlutut pada Mark. Mark pun menjadi superhero menggantikan ayahnya.

2 tahun kemudian, ada kelompok penjahat, Mark melawan mereka dan kelompok penjahat itu bernama uvo. Uvo menyerang mereka dan mereka kalah, tapi ada raja dari uvo bernama Dark.

Dark menyerang Mark, pertarungan tidak usai selama 3 hari 3 malam. Mark membawa Dark ke bulan dan Mark menonjok Dark, lalu Dark kalah dan Mark menang.

Tamat.

Travelling ke Jakarta
Karya: Virla Aqeela

Pada suatu malam, aku diberi keujuta oleh keluargaku, karena aku berulang tahun dan aku diberi kejutan pada jam 12 malam. Aku diberi kejutan dan aku terkejut, karena tiba- tiba diberi kejutan. Setelah di beri kejutan, aku diajak oleh ayah, ibu, dan kakakku ke Jakarta. Aku pun langsung berangkat ke Jakarta untuk travelling sekaligus jalan-jalan. Aku sampai di sana sekitar jam setengah 5 subuh. Aku ke hotel untuk beristirahat.
Aku terbangun pada jam 9 pagi. Aku pun langsung mandi, karena aku mau main ke Dufan.
Sesampainya di Dufan aku tekejut, karena ramai sekali di sana dan aku pun membeli tiket terlebih dahulu untuk masuk. Aku main wahana yang pertama, yaitu wahana Ontang-anting. Wahana kedua adalah wahana Alap- alap, wahana ketiga adalah wahana Niagara-gara. Di wahana keempat aku ke bagian wahana Istana Boneka, kemudian aku ke wahana ke lima, yaitu wahana Kora-kora. Wahana berikutnya aku menaiki Kereta Misteri, kemudian ke wahana Ice Age Artic Adventure, wahana 4D Simulator Mowgli’s Jungle Race, wahana Gajah Bledug, dan wahana yang terakhir adalah wahana Arum Jeram.
Dari Dufan kami langsung jalan-jalan lagi ke Pekan Raya Jakarta/ PRJ. Dari sana kami kembali lagi ke Hotel, karena kami sudah lelah sekali dan besok siangnya kami pun pulang ke Bandung.

Tamat.

Merajut Itu Menyenangkan!
Karya: Afsheena Azzahra

Suatu pagi yang cerah Karin dan Kirana berbincang di ruang makan.
”Kak aku ingin belajar merajut,” kata kirana.
”Wah.. boleh. Mau bikin apa?” balas Karin.
“Aku ingin membuat rajutan untuk botol minumku kak.”
Kirana pun menjawab kembali.
“Tapi benang rajutnya habis dik. Bagaimana kalau kita berjalan kaki untuk membelinya? Lumayan, sekalian olahraga,” ujar Karin.

Akhirnya, mereka memutuskan berjalan kaki untuk membeli benang rajut sambil berolahraga. Mereka membeli beberapa warna benang, lalu pulang kembali ke rumah.

Saat di rumah, Kirana di ajarkan oleh Karin cara membuat tempat botol rajut.
“Kak caranya bagaimana?” tanya Kirana.
”Caranya, kamu seperti ini dulu, lalu kamu bikin seperti ini seperti itu” jawab Karin memberi arahan kepada adiknya.
”Wah.. ternyata tidak terlalu sulit dan menyenangkan sekali ya kak,” ucap Kirana.

Akhirnya, mereka berdua membuat botol rajutan dan menyelesaikannya bersama. ”Ternyata merajut itu menyenangkan ya, tak terasa juga rajutanku sudah selesai,” ucap Kirana dengan girang.
“Terima kasih kak sudah mengajariku. Besok-besok ajari aku lagi rajutan lainnya ya,” Kirana menambahkan.
“Oke dik. Semua hal akan mudah jika kita berusaha belajar dengan baik dan tekun,” Balas Karin.

Adik kakak ini pun tersenyum bahagia sambil memandangi botol minum yang sudah dibungkus rajutan masing-masing.

Tamat.

Gudang Kantin Sekolah

Hari Selasa pun tiba, Arsya sangat senang sekali karena ia ingin cepat-cepat bertemu dengan sabahat-sabahatnya di sekolah. Sesudah sarapan ia bergegas menggunakan sepatu, lalu berangkat ke sekolah bersama ayahnya. Sesampainya di sekolah ia langsung menaiki lift untuk menuju ke lantai 4. Sesampainya di kelas ia bertemu dengan Kalea dan Qia.
“Hai Kal, hai Qii,” sapa Arsya kepada sahabatnya.

Setelah itu mereka mengobrol dengan asiknya.
“Eh kalian udah ngerjain tugas IPAS belum?” tanya Kalea ke Arsya dan Qia.
Arsya bergegas memberikan jawaban “Hmmm…udahh donggg.”
“Aku jugaa udahh dongg,” saut Qia.
Beberapa menit kemudian, Corde dan Lova datang dan mereka turut menyapa yang lainnya yang sedang asik berdiskusi mengenai tugas.
Awalnya mereka berlima ingin mengobrol, tetapi bel sudah berbunyi.
“Yahhh udah ada suara bel..” ujar mereka berlima, kemudian mereka bergegas masuk ke dalam kelas untuk memulai mata pelajaran pertama dan setelah berada di kelas mereka bergegas menyiapkan buku pelajaran IPAS.
Sesudah pelajaran IPAS dilanjutkan dengan mata pelajaran berikutnya yaitu Matematika, pada saat itu mereka ditugaskan untuk membuat bangun ruang dan tanpa terasa waktu pun terus berjalan dan tiba waktunya bel istirahat pun berbunyi.

“Ehhh yuk jajan, udah laperr nihh” ajak Qia.
Akhirnya mereka jajan ke kantin bersama-sama dan mereka berjalan ke kantin sambil mengobrol dengan seru. Namun, di tengah obrolan mereka, tiba-tiba Lova berhenti sejenak di dekat gudang kantin dan tiba-tiba mukanya terlihat pucat, kemudian Lova berkata, “Itu ada apa di dalam Gudang?” tanya Lova sambil terlihat kaget.
Akhirnya teman-teman yang lain langsung bertanya, “Kenapa kamu Lov, emang kamu lihat apa di Gudang kantin?” Saat itu Lova hanya terdiam dan tidak menceritakan tentang hal itu kepada siapapun.

Saat mereka sudah membeli jajanan, Corde dengan penasarannya menanyakan sesuatu kepada Lova.
“Oii lopp kamu kenapa sihh tadi?, dari tadi kaya bingung gituu?”tanya Corde.
“Eeee…itu tadi aku liat ada sesuatu gitu di gudang kantin sekolah,” jawab Lova.. “Hah seriusan? emang adaa apaaa Lovv?” Tanya mereka sambil terkejut.

Dengan wajah yang masih terlihat kaget, Lova mencoba untuk menceritakan sesuatu kepada teman-temannya, “Gak tauu sihh cuman kayak ada putih-putih gituu” jawab Lova yang kebingungan.. Mereka pun menjadi penasaran tentang hal yang diceritakan Lova tadi.
“Kalau boleh jujur ya aku kepo bangett.. Rasanya pengen ngecek” ujar Qia.. “Samaa aku juga.. Apa kita cek bareng aja ya?” Ujar Arsya dengan ekspresi wajah yang sedikit ragu-ragu.
Mereka pun setuju dengan ide yang disampaikan oleh Arsya, kecuali Lova ia tidak berani untuk ikut ke Gudang kantin sekolah.
“Ya udah Lovaa kalau kamu takut, ga usah ikut, tunggu aja di sini” Ujar Arsya yang sedikit greget.
Setelah Lova berpikir sejenak ia memutuskan untuk ikut bersama teman-temannya.

Pada saat itu Arsya dan Qia yang duluan masuk ke Gudang, lalu diikuti dengan Kalea, Corde dan Lova. Setelah Arsya dan Qia selidiki, itu seperti tumpukkan kardus yang ditutupi oleh kain putih, karena Arsya sangat penasaran ia memutuskan untuk membuka kain itu dan ternyata benar, itu adalah tumpukkan kardus yang ditutupi oleh kain. Mereka pun menjadi lega, karena akhirnya penasaran mereka pun terungkap.

Tamat.

Pahlawan Negara
Karya: Haidar Afnan Gibran

Suatu hari sebelum kemerdekaan di negara Halunesia, terdapat 6 tokoh pemberani yaitu Bung Karsa, Bung Ridwan, Bung Ahmad, Michael Jobardi, Nyi Roro Kaler dan Sunan Gunung Merapi. Mereka adalah tokoh pemberani yang memberi layanan pendidikan, kesehatan, dll, kepada rakyat biasa saat masa penjajahan yang kejam. Mereka sangat susah ditangkap oleh penjajah.

Suatu ketika Bung Karsa, Bung Ridwan, Bung Ahmad disembunyikan ke tempat yang jauh dari perkotaan. Mereka bingung harus bagaimana.
“Ah, aku kesal sekali dengan para penjajah itu! Mereka jahat!” Kata Bung Karsa.
“Sama sih aku juga. Berarti kita harus mencari jalan ke luar supaya bisa mengusir para penjajah itu,” kata Bung Ridwan.
“Kalau begitu aku tahu harus apa, kita berunding saja agar masyarakat tidak sengsara dan kita bisa menjadi negara merdeka,” kata Bung Ahmad.
“Ide yang bagus!” Kata Bung Karsa dan Bung Ridwan.

Lima hari mereka berunding, dan mereka sepakat membuat negara yang disebut “Halunesia”. Esoknya ada 3 orang yang dikirim juga ke tempat yang sama seperti Bung Karsa, Bung Ridwan dan Bung Ahmad. Mereka adalah Michael Jobardi, Nyi Roro Kaler, dan Sunan Gunung Merapi.
Michael jobardi dikenal sebagai tokoh yang tegas dari timur. Nyi Roro Kaler dikenal sebagai tokoh pemberani wanita yang tahu segala hal. Sunan Gunung Merapi sangat tahu tentang agama dan perekonomian.
“Nambah lagi nih anggotanya,” kata Bung Ridwan.
“Ehh ga boleh gitu, mending kita ajak mereka buat ngasih tahu rencana kita,” kata Bung Ahmad.
Michael jobardi, Nyi Roro Kaler dan Sunan Gunung Merapi pun ikut berunding. Mereka pun setuju untuk membuat negara. Namun, mereka bingung bagaimana mereka membuat masyarakat tidak sengsara dan bisa membuat negara mereka, mereka pun menemukan banyak buku disebuah ruangan di tempat mereka ditangkap.
“Weh liat sini, di sini banyak sekali buku. Semoga ini bisa membantu kita membuat negara,” kata Nyi Roro Kaler.
Mereka pun membaca semua buku yang ada di sana. Banyak sekali ilmu yang mereka dapatkan dari sana. Akhirnya, mereka berunding lagi untuk membagi pekerjaan. Bung Karsa akan memimpin perlawanan, membaca proklamasi saat sudah menang, dan menjadi presiden saat sudah merdeka. Bung Ridwan akan menumbuhkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan ekonomi rakyat, dan saat sudah merdeka dia akan menjadi wakil presiden. Bung ridwan akan memenuhi kebutuhan perang dan saat sudah merdeka akan menjadi menteri kemasyarakatan. Michael Jobardi akan menjadi ketua militer, dia akan melatih rakyat menjadi militer, cara memakai kendaraan, dll. Lalu saat setelah merdeka dia akan menjadi menteri pertahanan. Nyi Roro Kaler akan melatih pendidikan rakyat, lalu saat merdeka dia menjadi menteri pendidikan. Sunan Gunung Merapi akan menyebarkan ajaran agama Islam dan mengajarkan rakyat untuk toleransi, beribadah, dll.
Perang pun berjalan selama 10 tahun. Akhirnya negara Halunesia menang dan tujuan mereka pun tercapai. Pembacaan teks proklamasi pun dimulai. Semua orang senang dan keberadaan negara Halunesia pun diakui oleh negara lain.

Tamat.

Mimpi Misterius
Karya: Ghaaziya Hafiza Syakira

Saat malam hari jam 22.00.
“Neraa.…” panggil ibu.
“Iya bu ada apa?” Nera pun menjawab.
“Sekarang waktunya kamu tidur, ayo tidur dulu nak,” kata ibu.
”Iya bu,” kata Nera.
Nera sangat suka bermain game sampai jam 22.00. Akhirnya, dengan ogah-ogahan Nera pun tidur.
”Selamat tidur nak, jangan lupa baca doa” kata ibu.
”Iya bu!”ucap Nera.

Akhirnya Nera pun tertidur lelap. Saat sedang tidur Nera bermimpi. Mimpi yang dirasakan Nera sangat misterius.
(Cerita Dalam Mimpi)
”Wah aku dimana?” kata Nera, tiba-tiba sesosok makhluk putih lewat dengan cepat, wuss..
”Ih, apa itu?”ucap Nera. Nera melihat dengan matanya sendiri bahwa benar-benar ada makhluk putih yang lewat. Tiba-tiba ada yang berkata.
”Jelajahilah sekolah tua ini!”
“Yang benar saja aku harus menjelajahi sekolah tua ini!” ucap Nera dalam hati.
Ia merasa mimpi yang dialaminya sama dengan game yang dimainkannya tadi sebelum tidur. Akhirnya, Nera pun bergegas menuju sekolah tua tersebut agar bisa kembali tidur nyenyak.
”Eh apa ini?” tanya Nera.
Nera melihat sebuah petunjuk. Pentunjuk itu bertuliskan “Jika kamu ingin kembali ke tidurmu yang nyenyak, kamu harus mencari kunci untuk membuka pintu-pintu agar mendapatkan petunjuk lainnya untuk Kembali pada tidurmu yang nyenyak.“

“Oke! Siapa takut?” katanya sambil memberanikan dirinya.
“Sepertinya itu pentunjuk dari makhluk putih tadi,” ucapnya.
Akhirnya Nera masuk ke sekolah tua itu, di sekolah tua itu banyak sekali debu serta barang sekolah yang tidak dipakai lagi, sebenarnya masih ada yang sekolah di sini tetapi memang jumlah muridnya tidak banyak
“Siapa juga yang mau sekolah disini? ”kata Nera.
Nera pun melanjutkan perjalanannya yang mengerikan itu.
Sampai akhirnya ia menemukan kuncinya.
”Yeyyy!!, akhirnya ketemu juga kunci ini!, saatnya kita buka.
”Rawrrrr!! Aaaakkkk!”
Nera pun terkaget-kaget karena ada monster yang seram.
” Ehh.. bagaimana aku menyerangnya?”
Tiba-tiba pedang turun ke tangannya.
”Musnahlah kamu monster jahat!” teriak Nera.
“ Alhamdullilah musnah juga monsternya,” syukur Nera.
Nera pun melanjutkan perjalanannya menuju pintu kedua. Tiba-tiba dia bertemu dengan sesosok putih tadi yang ditemuinya saat awal, sesosok putih itu berkata, ”Kunci kedua terdapat di lantai dua ya.”
“Hmm.. di lantai dua ya? oke deh! Go , gas, ngengg!”ucap dirinya agar bersemangat.
Selama di perjalanan tanpa disadari ia sudah melewati kuncinya, ”Ehh.. kelewat untung aku sadar,”ucap Nera. Nera pun membuka pintu itu sama saja seperti tadi.
“Monster! Aaakkk.. hai monster jahat, sini kamu! hiiyaaattt!” kata Nera.
Akhirnya monster itu pun musnah tapi monster itu ternyata lebih kuat sehingga nyawa Nera di mimpi itu berkurang satu, yang semula ada tiga.
Nera pun melanjutkan perjalanannya, ia terus mencari kunci ketiga.
“Akhh ada di mana sih kunci itu?”
Sambil ia melihat petunjuk yang dia ambil.
”Ahh ternyata di kantin lantai satu!” ucap Nera, Nera langsung berlari ke kantin lantai satu.
“Ahh ini kuncinya!” teriaknya.
Tiba-tiba sesosok putih itu datang lagi dan berkata.
“Hei sini lawan aku dulu!”
“Apa lawan kamu? Tidak kamu pasti bohong!”
”Kenapa aku bohong? Kan aku sudah memberimu petunjuk,”kata sosok putih itu.
“Ahh, iya juga ya!” ucapnya dalam hati.
“Tapi bermain apa?” tanya Nera.
“Gampang kamu hanya tinggal bermain suit denganku. Kalau kamu menang aku akan kembalikan kamu ke tidur nyenyakmu.”
”Oke!” tegas Nera.
Akhirnya dia pun suit dengan makhluk itu, saat sedang suit yang ketiga,
”Suit!”kata mereka berdua, ternyata yang menang adalah Nera.
”Yeahh aku menang!” katanya senang.
Akhirnya sosok putih itu keluarkan Nera dari mimpi itu, tapi sebelum itu ”Nera!” kata sosok itu memanggilnya.
“Apa?” tanya Nera, “Sebenarnya aku bukanlah sosok atau hantu yang menyeramkan, tetapi aku itu adalah Kakakmu!”
“Apa!” teriak Nera. Nera pun sangat terkejut.
Akhirnya Nera pun dikeluarkan dari mimpi itu dan kembali tidur nyenyak.

Tamat.

Menit-menit Akhir
Karya: Arrazi Yoka Ben Arfa

Rory: “Ray open aku aku kosong.”
Rayan: “Oke nih.”
Rory: “Mantap, lagi ngocek Sah.”
Zio: “Ror open, aku deket deket gawang.”
Rory: “Nih terima.”
Zio: “Yok siap-siap, aku open langsung nendang.”
Yoka: “Siap tendang.”
Semuanya: “Golll… Hore juara.”

Yoka dan teman-temannya pun berhasil menjumpai piala dunia.

Tamat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *